Jam Kerja
| Hari | Mulai | Selesai |
|---|---|---|
| Senin | 08:00:00 | 16:00:00 |
| Selasa | 08:00:00 | 16:00:00 |
| Rabu | 08:00:00 | 16:00:00 |
| Kamis | 08:00:00 | 16:00:00 |
| Jumat | 08:00:00 | 14:30:00 |
| Sabtu | Libur | |
| Minggu | Libur | |
Info
Air di umbul desa itu sejak dulu jernih dan terus mengalir dari mata air di kaki Gunung Merapi. Namun bertahun-tahun lamanya, ia hanya menjadi bagian dari rutinitas desa—untuk mandi, mencuci, dan mengairi sawah. Tak pernah terpikir bahwa dari mata air itulah miliaran rupiah bisa lahir dan mengubah masa depan sebuah desa.
Hingga kemudian, Desa Ponggok di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini membuktikan satu hal penting: desa tidak kekurangan potensi, yang kerap kurang hanyalah keberanian dan kemampuan mengelolanya.
Kisah Ponggok adalah kisah tentang kepemimpinan, tata kelola, dan keberanian mengambil risiko. Di balik perubahan besar itu, berdiri sosok kepala desa tiga periode, H. Junaedi, yang memimpin desa keluar dari keterbatasan menuju kemandirian ekonomi.
Dari Umbul Biasa Menjadi Aset Berharga
Sebelum tahun 2010, Umbul Ponggok hanyalah mata air desa yang hidup bersama warga. Tidak ada tiket, tidak ada wisata, apalagi nilai ekonomi. Air mengalir, tetapi kesejahteraan desa berjalan lambat.
Perubahan dimulai ketika H. Junaedi memandang umbul bukan sekadar fasilitas umum, melainkan aset desa. Cara pandang ini menjadi titik balik. Air yang selama ini “gratis” justru dinilai sebagai kekayaan bersama yang harus dikelola demi kepentingan warga.
Keputusan strategis diambil: Umbul Ponggok tidak diserahkan ke investor luar, melainkan dikelola desa sendiri melalui badan usaha milik desa.
Peran Sentral Kepala Desa: Sang Arsitek Perubahan
Peran H. Junaedi jauh melampaui fungsi administratif kepala desa. Ia tampil sebagai arsitek perubahan.
Pertama, ia membawa visi jangka panjang: menjadikan desa mandiri tanpa bergantung penuh pada bantuan pemerintah.
Kedua, ia membangun kepercayaan warga melalui musyawarah. Ide wisata air bukan keputusan sepihak, melainkan hasil kesepakatan bersama bahwa keuntungan harus kembali ke desa.
Ketiga, ia memastikan pengelolaan dilakukan secara profesional dengan menyerahkan operasional kepada BUMDes Tirta Mandiri. Pemerintah desa menjaga arah dan pengawasan, sementara BUMDes bekerja sebagai entitas bisnis yang transparan dan akuntabel.
Dalam konteks ini, kepala desa tidak menjadi penguasa usaha, tetapi penjaga kepentingan publik.
Proses Sejak 2010: Keberanian Memulai
H. Junaedi memimpin Ponggok sejak tahun 2009, dan saat itulah langkah nyatanya dimulai. Dengan modal terbatas dari hibah desa, Rp100 juta di tahun 2009 dan Rp300 juta di tahun 2010, Umbul Ponggok mulai ditata. Inovasi kunci muncul ketika desa mengemasnya sebagai wisata foto bawah air—konsep unik yang belum banyak ada saat itu.
Sejak 2015 hingga 2017, Umbul Ponggok mulai dikenal luas. Media meliput, wisatawan berdatangan, dan Ponggok menjelma menjadi ikon wisata desa nasional. Dari sinilah roda ekonomi desa berputar kencang.
Keberadaan Dana Desa mempercepat penggalian potensi lokal lainnya. Kini, di setiap rw ada tempat wisata yang dikelola mandiri. Ada pula program ketahanan pangan di sektor perikanan dan pertanian serta agrowisata yang memiliki ciri khas masing-masing.
Angka yang Berbicara: Keuntungan Nyata Untuk Desa
Keberhasilan Umbul Ponggok bukan sekadar cerita inspiratif, tetapi tercermin dalam angka:
Angka-angka ini menjadikan Ponggok bukti nyata bahwa desa mampu menjadi aktor ekonomi, bukan sekadar objek pembangunan.
Keuntungan tersebut tidak berhenti di laporan keuangan. Dana BUMDes dialirkan kembali ke masyarakat dalam berbagai bentuk program: penciptaan lapangan kerja bagi warga desa, program sosial dan bantuan bagi kelompok rentan, beasiswa pendidikan, pembangunan infrastruktur desa, dan modal pengembangan unit usaha baru.
BUMDes tidak hanya mengejar laba, tetapi menjadi alat pemerataan kesejahteraan.
Umbul Ponggok hari ini tetaplah mata air yang sama. Yang berubah adalah cara desa memimpinnya. Dengan kepemimpinan yang visioner, tata kelola yang bersih, dan keberanian memulai dari potensi lokal, air yang dulu mengalir tanpa makna kini menjelma menjadi rezeki yang terus mengalir bagi seluruh warga desa.
Kisah Ponggok menegaskan satu pesan penting: ketika kepala desa memimpin dengan visi dan integritas, desa bukan hanya mampu bertahan—tetapi mampu melompat jauh ke depan.
Ponggok dan BUMDes Tirta Mandiri kini bukan hanya cerita, tapi sumber inspirasi. Sudah ribuan desa dan lembaga yang datang, belajar, dan terinspirasi dari mereka. Harapannya, akan tumbuh Ponggok-Ponggok baru di seluruh Nusantara.
Hubungi Aparatur Desa Untuk mendapatkan PIN
Total Populasi Desa Krandegan
1483 1483
1550 3033
3033 0
3033
TOTAL : 3033 ORANG
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
| Alamat | : | Desa Krandegan RT 01 RW 02 |
| Desa | : | Krandegan |
| Kecamatan | : | Bayan |
| Kabupaten | : | Purworejo |
| Kodepos | : | 54224 |
| Anggaran | : | Rp 2.204.734.491,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 1.685.305.314,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp -519.429.177,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 68.892.191,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 220.000.000,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 902.570.000,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 43.126.900,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 409.145.400,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 300.000.000,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 260.000.000,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 1.000.000,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 1.014.472.714,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 109.514.700,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 254.967.900,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 302.750.000,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
| Anggaran | : | Rp 3.600.000,00 |
| Realisasi | : | RP 0,00 |
0%
Zam
05 Januari 2026 12:02:44
Setuju. Kalimat yang terakhir itu penting untuk dijadikan tagline. ...