Lelaki setengah baya itu baru saja menyelesaikan salat Dzuha. Rutinitas yang tak pernah ia tinggalkan. Sajadah belum sepenuhnya terlipat ketika ketukan pelan terdengar di pintu rumah kontrakan sederhananya.
Ia bangkit, melangkah, lalu membuka pintu.
Beberapa anak Karang Taruna berdiri rapi di hadapannya. Dengan bahasa yang sopan dan mata penuh harap, mereka menyampaikan maksud kedatangan: mengajukan permohonan donasi untuk kegiatan kepemudaan akhir bulan ini.
Sejenak pikirannya seperti berhenti. Sunyi. Kosong. Sampai sebuah sapaan kembali menyadarkannya.
Tangannya refleks meraba saku. Ada lima lembar uang seratus ribuan di sana. Tanpa banyak kata, tiga lembar ia tarik, lalu ia serahkan. Anak-anak itu terkejut, lalu berkali-kali mengucap terima kasih sebelum pamit pulang.
Pintu kembali tertutup. Rumah kembali sunyi. Barulah pikirannya menerawang.
Pagi tadi ia baru saja mengecek uangnya: lima ratus ribu rupiah. Itu saja.
Tiga ratus ribu sudah ia niatkan untuk mengirim uang saku anaknya yang kuliah. Dua ratus ribu sisanya untuk dua hajatan—satu di desanya, satu di luar desa.
Ia sudah mengatur strategi. Datang siang ke hajatan pertama, sore ke hajatan kedua. Bukan soal basa-basi. Bukan pula karena pelit. Tapi karena ia dan istrinya bisa makan di tempat hajatan itu. Di rumah, beras sudah habis. Tinggal beberapa butir di dasar wadah.
Jam dinding menunjukkan pukul 10.30.
Kalender menandai tanggal 23. Tanggal tua untuk dirinya yang menerima gaji di awal bulan.
Ia berganti baju. Istrinya bersiap. Hajatan pertama berada di luar desa.
Namun baru saja melangkah keluar rumah, ponselnya berdering.
Di ujung sana, suara seorang lelaki terdengar bergetar.
“Ibu saya meninggal, Pak… mohon bisa datang.”
Rencana berubah seketika. Tanpa makan siang, ia dan istrinya menuju rumah duka di RW sebelah. Hajatan batal. Makan siang pun batal. Yang ada hanya takziah, doa, dan air mata.
Pengurusan jenazah berlangsung panjang. Hingga pemakaman selesai, jarum jam sudah menunjuk pukul 16.30.
Ia pulang dengan tubuh lelah dan perut kosong.
Hajatan kedua pun tak terkejar waktu. Ia hanya menitipkan dua amplop—masing-masing berisi seratus ribu—kepada seorang teman yang tetap berangkat kondangan.
Sementara di acara kematian, ia hanya bisa menyelipkan selembar uang duapuluh ribuan yang didapatkan dari dashboard sepeda motornya: kembalian beli BBM di SPBU beberapa hari lalu.
Senja turun perlahan.
Di depan pintu rumahnya, sesuatu tergeletak. Sebuah karung berisi beras, kira-kira sepuluh kilogram. Ia terdiam.
“Dari mana ini?” batinnya.
Ia belum berani membawanya masuk. Takut salah. Takut bukan haknya.
Menjelang Magrib, rasa penasarannya tentang asal muasal beras terjawab. Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan WhatsApp masuk:
“Pak Kades, maaf. Itu ada sedikit beras dari saya, hasil panen. Jangan dilihat nilainya, tapi sebagai tanda cinta.”
Pesan itu dari salah satu warganya.
Ya, lelaki itu adalah seorang Kepala Desa. Pemimpin ribuan warganya.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Hamdalah dan takbir lirih terucap dari bibirnya.
Namun sampai malam hari, satu hal masih belum terjawab: ia belum tahu dari mana uang saku untuk anaknya akan dikirim.
Tak ada lagi uang tersisa. Tak ada rencana cadangan.
Tapi ia punya keyakinan yang tak tergoyahkan di dadanya.
Anaknya hanyalah titipan. Milik Allah. Dan apa yang menjadi milik Allah, pasti diurus oleh-Nya.
Ia percaya, sepenuh hati, bahwa pertolongan itu akan datang—entah dari arah mana, entah dengan cara apa.
Allah Maha Besar.
Allah Maha Adil.
Malam itu, ia dan istrinya makan dari beras pemberian warganya.
Dan di antara suapan sederhana itu, tumbuh satu ketenangan: bahwa rezeki tak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya berpindah tangan, menunggu waktu yang tepat untuk kembali
Kisah di atas adalah kisah nyata yang dialami seorang kepala desa, tanpa menyebutkan nama orang maupun nama desanya.
Namun ia tidak sendirian.
Banyak kisah serupa dijalani oleh para kepala desa dan perangkat desa lain—mereka yang setiap hari memikul tanggung jawab besar dengan penghasilan yang sering kali jauh dari layak.
Jabatan yang kerap menjadi sasaran hujatan netizen.
Bahkan tak jarang, hujatan itu datang dari warganya sendiri.
Semua diratakan dalam satu stigma: bahwa setiap pejabat, termasuk pejabat desa, pasti pelaku korupsi.
Kisah di atas adalah antitesis dari tudingan jahat itu. Bahwa di balik jabatan yang sering dicurigai, masih banyak nurani yang bekerja dalam diam, banyak pengabdian yang tak pernah tampil di layar gawai, meski hidupnya sendiri sering kali berada di batas paling sederhana.
Zam
05 Januari 2026 12:02:44
Setuju. Kalimat yang terakhir itu penting untuk dijadikan tagline. ...