Wargaku semua yang kami cintai.....
Kami menulis surat ini
dengan hati yang sungguh berat.
Bukan karena kami lelah mengabdi,
bukan karena kami berhenti peduli,
tetapi karena kami harus jujur
kepada warga desa yang kami cintai.
Ke depan,
kami tidak lagi bisa melayani
seperti tahun-tahun sebelumnya.
Kami harus menyampaikan dengan terbuka,
bahwa banyak hal yang dulu bisa kami lakukan,
kini tidak lagi mampu kami wujudkan.
Kami tidak bisa lagi membangun
jalan-jalan desa yang rusak
seperti yang dulu kita perbaiki bersama.
Kami tidak bisa lagi memperbaiki
saluran irigasi yang rusak,
padahal kami tahu
itu menyangkut sawah, panen,
dan penghidupan warga.
Kami tidak bisa lagi memberikan
PMT untuk posyandu
seperti tahun-tahun sebelumnya,
padahal itu menyangkut tumbuh kembang
anak-anak desa kita.
Kami tidak bisa lagi menyediakan
akses wifi gratis untuk warga,
yang dulu menjadi jendela informasi
dan sarana belajar bagi anak-anak kita.
Kami juga tidak bisa lagi menyalurkan
BLT Dana Desa
sebanyak dan seluas tahun-tahun lalu.
Bahkan ketika nanti bencana datang,
kami harus jujur mengatakan:
kami tidak bisa berbuat banyak
seperti yang pernah kami upayakan dahulu.
Dan masih banyak kebutuhan warga lainnya
yang terpaksa harus kami tunda,
bukan karena kami tak mau,
melainkan karena kami tak mampu.
Semua ini bukan karena kami tidak peduli.
Bukan karena kami berhenti ingin berbuat baik.
Namun karena kenyataan yang harus kita hadapi bersama:
Dana Desa yang kami terima saat ini
tinggal sekitar sepertiga
dari tahun sebelumnya.
Sepertiga anggaran,
namun harapan warga tetap utuh.
Di situlah hati kami sering terasa sesak,
karena keinginan kami untuk melayani
jauh lebih besar
daripada kemampuan yang kami miliki hari ini.
Kami ikut sedih
ketika tidak bisa membantu lebih banyak.
Kami ikut merasa bersalah
ketika harus menjawab kebutuhan warga
dengan kata paling berat:
“belum bisa.”
Maka melalui surat terbuka ini,
tanpa pembelaan,
tanpa alasan yang dibungkus kata-kata indah,
kami menyampaikan dengan tulus:
Kami mohon maaf.
Maaf karena keterbatasan ini.
Maaf karena banyak harapan
yang belum bisa kami penuhi.
Maaf karena pelayanan kami
tidak lagi seperti dulu.
Namun satu hal yang ingin kami tegaskan:
kepedulian kami tidak berkurang.
rasa tanggung jawab kami tidak hilang.
dan kecintaan kami pada desa ini
tetap utuh.
Dalam kondisi yang serba terbatas,
kami akan menjaga amanah rakyat
dengan jujur, terbuka, dan seadil-adilnya.
Dan kami mohon,
jangan biarkan keterbatasan anggaran
memutus kebersamaan kita.
Karena ketika dana berkurang,
yang tidak boleh ikut berkurang adalah
gotong royong,
kepedulian,
dan keyakinan bahwa desa ini
harus dibangun bersama,
bukan hanya oleh pemerintah desa.
Terima kasih
atas pengertian, kesabaran,
dan doa dari seluruh warga.
Semoga Allah SWT
memberi kita kekuatan hari ini,
dan jalan yang lebih baik
di hari esok.
Hormat kami,
Pemerintah Desa
Zam
05 Januari 2026 12:02:44
Setuju. Kalimat yang terakhir itu penting untuk dijadikan tagline. ...